by

Benny Tjokro Sebut BPK Lindungi Grup Bakrie Dalam Kasus Jiwasraya

-Nasional-78 views


 
sumber photo: media indonesia
Photo Benny Tjokro

Ideanewsindo.com –
Direktur PT Hanson Internasional Benny Tjokrosaputro menuding Badan Pemeriksa
Keuangan melindungi Grup Bakrie dalam skandal korupsi di PT Asuransi Jiwasraya.

“Yang nutupin kan Ketua dan Wakil Ketua BPK yang udah
pasti kroninya Bakrie,” kata Benny sebelum persidangan kasus ini, di
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 24 Juni 2020.

Benny meminta Kejaksaan Agung membuka keterlibatan kelompok
usaha milik keluarga Aburizal Bakrie itu di persidangan. Ia meminta masyarakat
juga membantu membuka dugaan keterlibatan itu. “Kalau enggak mau terbuka,
ya biar masyarakat ikut bantu buka, jangan ditutupi dong,” kata dia.

Majalah Tempo edisi 7 Maret 2020, menyebut sembilan anggota
BPK terbelah mengenai perlu atau tidaknya menelisik dugaan kerugian negara
dalam transaksi gadai saham yang melibatkan sejumlah perusahaan di grup Bakrie.
Tiga sumber auditor dan penegak hukum yang megetahui detail pemeriksaan kasus
ini mengungkapkan, investasi Jiwasraya sedikitnya tersangkut di sepuluh
perusahaan kelompok Bakrie.

Sebagian harga saham perusahaan tersebut kini hanya Rp 50
per lembar alias saham gocapan. Portofilio ini biasanya hanya laku di pasar
negosiasi bukan pasar terbuka.

Kode emiten kelompok usaha Bakrie memang tidak muncul dalam
koleksi saham Jiwasraya. Rupanya saham itu tertutup sebagai underlying asset.
Maksudnya Jiwasraya selama ini berinvestasi di sejumlah Reksadana Penyertaan
Terbatas. Sejumlah produk RDPT itulah yang mengoleksi efek terafiliasi grup
Bakrie.

Selama ini, sejak kasus Jiwasraya menggelinding pada akhir
2018, hanya dua afiliasi kelompok yang disebut terlibat. Saham itu milik tersangka
Heru Hidayat seperti PT Trada alam Minera dan PT Inti Agri Resources. Dan
perusahaan yang terafiliasi dengan tersangka Benny Tjokro. Audit BPK mendapati
investasi Jiwasraya juga menyangkut di Grup Bakrie dengan nominal yang tak
kalah banyak.

Munculnya kelompok usaha Bakrie ini diduga menambah panjang
deretan emiten yang ikut mengganggu likuiditas Jiwasraya. Hingga kini,
perusahaan asuransi pelat merah tercatat mengalami gagal bayar hingga Rp 16,7
triliun.

Tiga sumber Tempo menjelaskan bahwa kelompok usaha Bakrie
masuk melalui reksa dana-reksa dana milik Jiwasraya–Jiwasraya selama ini juga
berinvestasi di sejumlah reksa dana penyertaan terbatas atau RDPT. Namun,
saham-saham itu tertutup underlying asset. Karenanya, kode emiten kelompok
usaha milik Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu
ini tidak muncul di koleksi saham Jiwasraya.

Pemeriksa tim audit menemukan transaksi saham ini bermula
dari repo atau repurchase agreement pada 2004-2006. Pada rentang periode itu,
kelompok Bakrie memang tercatat banyak mengejar pendanaan dengan menggadai
sahamnya lewat sejumlah perusahaan sekuritas. Kemudian, perusahaan mencari
investor melalui instrumen penyertaan terbatas.

Berdasarkan pemeriksaan yang sama, saham Jiwasraya yang
dibenamkan lewat repo saham kelompok usaha Bakrie mencapai lebih dari Rp 3
triliun. Adapun kelompok Bakrie disebut-sebut tidak pernah menebus repo.

Saham-saham Jiwasraya itu tersimpan di Pan Arcadia Dana
Saham Bertumbuh, Pan Arcadia Saham Syariah, Pinnacle Dana Prima Pool Advista
Kapita Optima, Pool Advista Kapital Syariah, dan Treasure Fund Super Maxxi.
Data rincian investasi yang diterima Tempo menampilkan bahwa pada Desember
2019, Pinnacle Dana Prima merupakan salah satu saham yang dikoleksi Jiwasraya
dengan nilai perolehan Rp 1,817 triliun.

Adapun berdasarkan dokumen yang sama, RDPT itu juga
menggenggam saham lain yang terafiliasi dengan grup Bakrie. Di antaranya PT
Bumi Resources Minerals (Tbk), PT Bakrie Telecom Tbk, PT Bumi Resources Tbk,
dan PT Dara Henwa Tbk. Selain itu, PT Bakrie Sumatra Plantatios Tbk, PT Bakrie
Capitalinc Investment, dan PT Visi Media Asia.

Auditor menduga repo saham ini sama halnya dengan
transaksi-transaksi investasi lain di perseroan yang ketahuan menerabas
pengawas pasar modal. Kejaksaan Agung semula sudah menyinggung investasi
Jiwasraya di salah satu perusahaan afiliasi Bakrie.

Dikonfirmasi soal temuan repo saham ini, adik Bakrie, Nirwan
Bakrie, tak menjawab pertanyaan Tempo. Begitu pula Sekretaris Perusahaan Bakrie
and Brothers Group (BNBR) Christofer A. Uktolseja.

Direktur Utama BNBR taun 2002-2008 dan 2010-2019 Bobby Gafur
juga tak menjawab pertanyaan yang sama. Ia melemparkan masalah ini kepada
direksi teranyar. “Saya sekarang bukan Dirut BNBR lagi. Selaku perusahaan
terbuka, manajemen tidak pegang sahamnya sendiri,” tuturnya.

Adapun putra sulung Bakrie yang kini menjabat sebagai
pemimpin baru BNBR pun tak memberi komentar. Tak lain halnya dengan Direktur
Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko.

(tempo)



Source link

Comment