by

Dulu Ragukan Ahok, Kini Dahlan Iskan Puji Kinerjanya

-Nasional-13 views


sumber gambar: tribunnews
Dahlan Bertopi, Ahok Baju Abu-abu

Ideanewsindo.com –
Pada November 2019, Mantan Menteri BUMN Dahlan mengatakan Pertamina harus
dipimpin orang yang beprestasi, dan bahwa orang berprestasi akan sukses
ditugasi di mana pun. Dia kemudian bertanya, apakah Ahok termasuk sosok yang
berprestasi sehingga layak ditempatkan di BUMN. 

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyoroti proyek kilang
yang sedang dibangun PT Pertamina (Persero). Dengan tegas, Dahlan mendukung
proyek kilang besar Pertamina agar terus dilanjutkan walaupun dua investor
asing sudah mundur. 

“Saya salut. Proyek kilang besar Pertamina ternyata
tidak dihentikan. Khususnya yang di Balikpapan dan Cilacap. Dan juga Tuban.
Hanya yang Bontang saya belum tahu,” ucap Dahlan seperti dikutip dari
situs pribadinya, disway.id.

Mengerjakan tiga proyek kilang raksasa dibutuhkan dana besar
sekitar Rp 450 triliun. Dahlan menyebut, soal dana bukan masalah teknis tetapi
menyangkut taktik. Di level taktik ini yang berperan adalah ilmu
entrepreneurship. Bukan lagi level manajerial skill.

“Ups… Bukan ilmu entrepreneurship, tapi kemampuan
entrepreneurship. Ada perbedaan antara ilmu, skill, dan kemampuan. Dari tiga
level itu entrepreneurship adalah kasta tertingginya. Jadi, dari mana
pendanaannya? Bukankah kilang Balikpapan saja perlu USD 6,9 miliar? Cilacap USD
8,5 miliar? Dan Tuban USD 15,7 miliar?,” kata Dahlan.

Ia meyebut saat ini bukan lagi terkait dengan dari mana
dananya, namun bagaimana taktik pendanaannya. Sama halnya dengan pengusaha real
estate. Yang punya proyek Rp 100 triliun, namun dia tidak sepenuhnya memegang
dana Rp 100 triliun.

“Paling ia baru punya izin lokasi. Ditambah uang untuk
membebaskan secuil tanah. Yakni tanah yang di posisi-posisi kunci saja.
Sekaligus untuk mengunci tanah di belakangnya.”

Dahlan menegaskan mereka belum punya uang sebenarnya, namun
mereka membangun dan sudah dijajakan kepada konsumen. Kondisi seperti inilah
yang menjadi kasta entrepreneur.

“Tidak hanya di bidang real estate. Banyak bidang
lainnya. Yang seperti itu dilakukan hampir di semua bidang. Kali ini termasuk
Pertamina. Tiga proyek kilang itu tetap diteruskan. Dengan kemampuan dana
internal yang ada,” tutur Dahlan.

Hal yang sama ia sebut saat ini terjadi di tubuh Pertamina.
Pertamina pasti tidak punya uang sebanyak itu, tapi Pertamina masih memiliki
nama besar. Lewat nama besar Pertamina itu, kontraktor, dan pemasok masih
percaya. Tagihan pasti akan dibayar. Meski kadang harus kapan-kapan.

Kontraktor dan pemasok menurutnya masih akan rebutan. Inilah
nafas proyek Pertamina yang sesungguhnya. Proyek tetap bisa jalan dengan dana
pihak ketiga seperti itu.”Kontraktor dan pemasok adalah investor
sebenarnya proyek seperti itu. Pun proyek seperti real estate. Yang saya
jadikan contoh di atas. Long live kontraktor! Hidup supplier! Terutama kontraktor
yang mau dibayar kapan-kapan.”

Sumber modal yang dimiliki Pertamina tidak itu saja,
sebagian lagi masih ada dari masyarakat yang menjadi konsumen BBM. Lewat
pembelian BBM yang harganya lebih mahal dari seharusnya itu.

Ia mengaku sangat mendukung taktik pendanaan seperti itu
sehingga proyek bisa tetap jalan. Karena berarti Pertamina sedang menjalankan
kemampuan entrepreneurial-nya.

“Mestinya bisa sukses. Nama besar Pertamina masih bisa
dipertaruhkan. Ada jaminan produknya terjual habis. Dengan cepat. Tidak ada
yang meragukannya –berarti ada jaminan pendapatan pasti,” tegasnya.

Lebih lanjut Dahlan mengatakan, harga jual pun bisa dibuat
yang seperti apa maunya. Posisi ini membuat kelas Pertamina berbeda dengan
entrepreneur murni. Pertamina kalah kelas dengan properti tadi yang harga jual
rumahnya mengikuti harga pasar.

“Yang saya dukung adalah taktik entrepreneurship-nya di
tiga proyek itu. Bukan soal harga jual yang dibuat kemahalan itu. Saya tahu di
Pertamina ada dirut yang gigih. Di dalam struktur barunya pun ada direktur
khusus untuk mega proyek.”

Selain dari jajaran direksi yang gigih, Dahlan menyebut dari
jajaran komisaris ada juga Budi Sadikin, yang melekat dengan jabatan wakil
menteri BUMN. Yang punya track record sukses menangani bisnis besar yang sulit,
bersama menteri Ignasius Jonan sudah menunjukkan reputasi hebat: berhasil
menerobos Freeport yang bersejarah itu.

Lalu keberadaan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Komut ikut
berperan di pemikiran entrepreneurial itu. Ia menyebut terlalu lama kalau tiga
proyek itu sepenuhnya hanya mengandalkan dana pahlawan seperti kontraktor,
pemasok, dan konsumen.

“Dalam perjalanan taktik seperti itu akan ada yang
disebut “tahap mistis”. Di tahap itulah akan terjadi –saya sebut
saja– “ledakan momentum”. Sampai di momentum seperti itu, jalan yang
semula penuh lubang bisa kaget: seperti tiba-tiba menemukan jalan tol di
depan.”

Dahlan menegaskan, semua pengusaha sukses pernah mengalami
tahap “ledakan momentum” seperti itu. Menurutnya “ledakan
momentum” yang ia maksud pernah dibahas secara ilmiah di forum akademis.
Ia meyakini Pertamina juga akan mendapatkan “ledakan momentum”.

(bizlaw)



Source link

Comment