by

Muncul Sejumlah Nama Kader Gerindra Jadi Aktor di Belakang Perusahaan-perusahaan Eksportir Benur Lobster yang Dikeluarkan Kementrian KKP

-Nasional-44 views


 
sumber gambar: tribunnews
Photo Susi (Kiri, Mantan Menteri KKP), Kanan (Edy Menteri KKP)

Ideanewsindo.com –
Berdasarkan penelusuran Tempo, sejumlah kader partai menjadi aktor di belakang
perusahaan-perusahaan eksportir benur lobster tersebut. Di PT Royal Samudera
Nusantara, misalnya, tercantum nama Ahmad Bahtiar Sebayang sebagai komisaris
utama.

Bahtiar tak lain adalah Wakil Ketua Umum Tunas Indonesia
Raya, underbouw Partai Gerakan Indonesia Raya alias Gerindra. Dalam partai asal
Menteri Edhy Prabowo ini, Bahtiar juga menjadi Kepala Departemen Koordinasi dan
Pembinaan Organisasi Sayap. 

Seorang pria yang bernama Ariyanto membenarkan informasi
bahwa Bahtiar salah satu pemilik Royal Samudera. Bahtiar, kata dia, hanya salah
satu pemodal. Pendiri dan pemilik lain adalah anggota direksi. “Termasuk saya,
punya saham juga,” ujarnya. Nama Ariyanto tidak tercatat dalam akta perusahaan.

Menurut Ariyanto, Royal mengajukan diri sebagai eksportir
seperti perusahaan lain, tidak ada karpet merah kendati salah satu pemiliknya
terafiliasi dengan partai yang sama dengan Edhy. “Bahtiar itu siapa di
Gerindra? Dia bukan petinggi,” ucapnya.

Tiga eksportir lain juga terafiliasi dengan Gerindra. PT
Bima Sakti Mutiara, misalnya, hampir semua sahamnya dimiliki PT Arsari Pratama.
Komisaris Bima Sakti adalah Hashim Sujono Djojohadikusumo, adik Menteri
Pertahanan Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Gerindra. Rahayu Saraswati
Djojohadikusumo, putri Hashim, duduk sebagai direktur utama.

Saraswati mengakui Arsari Group baru kali ini menekuni usaha
lobster, setelah selama 34 tahun berbisnis mutiara. Ingin berfokus menggarap
sektor budi daya lobster, kata dia, perusahaan mengajukan permohonan izin
sebagai eksportir pada Mei lalu.

Dia tak ambil pusing soal anggapan konflik kepentingan dalam
penetapan Bima Sakti sebagai eksportir. “Tuhan tahu mana yang bener. Kalau
dapat izin terus berkarya membawa nama Indonesia, what is the problem?”

Setelah Bima Sakti, ada PT Agro Industri Nasional (Agrinas).
Saham perusahaan ini dikantongi oleh Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan
Perumahan yang berada di bawah pembinaan Kementerian Pertahanan. Namun direksi
dan komisarisnya didominasi kader Gerindra. 

Rauf Purnama, anggota dewan pakar tim kampanye Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno pada pemilihan presiden 2019 dan calon legislator Gerinda
pada Pemilihan Umum 2019, menjabat Direktur Utama Agrinas. Dirgayuza Setiawan,
pengurus Tunas Indonesia Raya, menjadi direktur operasi. Simon Aloysius
Mantiri, anggota Dewan Pembina Gerindra, menjadi direktur keuangan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menjawab temuan
mengenai adanya sejumlah kader Partai Gerindra di balik perusahaan yang
mendapat izin ekspor benih lobster. Ia mengatakan pemberian izin itu sudah ada
prosesnya dan siapa saja wajib dilayani.

“Semua proses ada panitiannya, detailnya. Yang jelas
saya minta siapa saja wajib dilayani. Termasuk koperasi. Yang mendaftar sudah
cukup banyak, saya enggak hafal satu persatu,” ujar Edhy, seperti dinukil
dari artikel di Majalah Tempo Edisi Senin, 6 Juli 2020.

Salah satu perusahaan yang terafiliasi kader Gerindra dan
dikonfirmasi Edhy adalah PT Agro Industri Nasional (PT Agrinas). “Agrinas
saya mendengar ada, dan saya pikir boleh dong, dia kan punyanya TNI. Punya
pertahanan,” ujar dia. Namun demikian, ia mengaku tidak hafal satu per
satu perusahaan yang menjadi eksportir bayi lobster tersebut.

Jumlah perusahaan eksportir benur lobster terus bertambah
semenjak Edhy Prabowo menerbitkan aturan yang memperbolehkan praktik tersebut
beberapa waktu lalu. Saat ini, jumlahnya telah mencapai 30 perusahaan. Mereka
terdiri dari atas 25 perseroan terbatas (PT), 3 persekutuan komanditer (CV),
dan 2 usaha dagang (UD).

(tempo)



Source link

Comment