by

Persyaratan Bawa Rapid Test Saat Naik Angkutan Umum Akan Digugat

-Nasional-13 views


sumber gambar: liputan6
Photo (Liputan6.com)

Ideanewsindo.com –
Guna menekan penyebaran COVID-19, pemerintah mengeluarkan Surat Edaran (SE)
Gugus Tugas Nomor 7 tahun 2020 tentang kriteria dan persyaratan perjalanan
orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat produktif dan aman
Corona Virus Disease (COVID-19). SE itu mengatur tentang kriteria dan
persyaratan bagi individu untuk bepergian.

Di mana kriteria yang harus dipenuhi bagi semua orang yang
akan bepergian adalah wajib mengenakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan.
Kemudian, terkait persyaratan yang harus dipenuhi individu untuk dapat
bepergian di antaranya, wajib menunjukkan identitas KTP atau tanda pengenal
lainnya yang sah, menunjukkan surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif
yang berlaku 7 hari atau surat keterangan uji rapid test dengan hasil
nonreaktif yang berlaku 3 hari.

Pengacara asal Surabaya, M Sholeh mengatakan, aturan wajib
membawa hasil rapid test sangat memberatkan. Selain ribet, juga memakan biaya yang
tidak murah. Untuk sekali rapid test, setidaknya masyarakat harus merogoh kocek
minimal Rp300.000 hingga Rp400.000. Beberapa pekan lalu, dirinya sempat rapid
test dan mengeluarkan biaya Rp300.000. 

“Saya waktu itu mau berangkat ke Jakarta dan harus rapid
test dulu. Karena sebelum naik pesawat, setiap penumpang harus membawa hasil
rapid test,” katanya dalam sebuah channel berbagi video miliknya yang diunggah
pada 22 Juni 2020.

Pria yang sempat maju sebagai calon Wali Kota Surabaya dari
jalur Independen ini menilai, kewajiban membawa hasil rapid test bagi
masyarakat yang akan memanfaatkan angkutan umum juga tidak adil. Dia
menceritakan, beberapa waktu lalu dia sempat melakukan rapid test. Di
sebelahnya ada keluarga yang terdiri dari tiga orang juga melakukan rapid test.
Biaya per rapid test sekitar Rp350.000. Jika dikalikan tiga orang maka biaya
total yang harus dikeluarkan sebesar Rp1.050.000.

“Keluarga ini mau pulang ke NTT (Nusa Tenggara Timur).
Mereka naik kapal yang tiketnya hanya Rp312.000. Ini aneh, biaya rapid test
lebih mahal daripada biaya naik kapal. Kalau orang yang mau ke NTT ini banyak
duit, mereka tidak akan naik kapal. Apakah pemerintah tidak memikirkan bahwa
biaya rapid test lebih mahal daripada naik angkutan kapal,” keluh Sholeh.

Sholeh menyatakan, selain biaya mahal, melakukan rapid test
juga ribet. Bagaimana tidak, ketika orang itu rapid test sekitar pukul 10.00
WIB, hasilnya baru bisa diketahui pada pukul 18.00 WIB. Sehingga, orang akan
bepergian tidak bisa berangkat pada hari itu juga. Parahnya lagi, meski hasil
rapid test reaktif, tidak otomatis orang tersebut terinfeksi COVID-19. Bisa
jadi karena ada virus lain selain virus corona. “Apa jaminan kalau sudah non
reaktif hasil rapid test tidak kena virus corona. Padahal kalau kena virus lain
pasti reaktif,” terangnya.

Seharusnya, kata dia, untuk memastikan orang itu sehat atau
tidak, hanya perlu memasang alat pendeteksi suhu tubuh maupun thermal gun. Ini
biayanya jauh lebih murah dan tidak ribet. Sebab, ada beberapa tempat publik
misalnya, meski sudah ada hasil non reaktif rapid test, tidak diperkenankan
masuk ketika suhu tubuhnya diatas 37 derajat.

“Kenapa tidak mengambil simpelnya saja. Pemerintah
mewajibkan semua yang masuk fasilitas umum wajib tes suhu. Jadi tidak usah
rapid test. Jadi ini ada apa sebenarnya. Ini banyak warga yang dirugikan karena
kewajiban rapid test,” tandasnya.



Source link

Comment