by

Presiden Jokowi Sentil Prabowo

-Nasional-47 views


 
sumber Photo: suara
Photo Jokowi & Prabowo

Ideanewsindo.com –
Presiden Joko Widodo meminta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk membeli
alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari perusahaan dalam negeri. Sebab,
belanja dalam negeri menjadi kunci dalam pemulihan ekonomi di tengah pandemi. 

Hal tersebut Jokowi sampaikan saat memimpin rapat terbatas
di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

“Untuk di Kemenhan, bisa saja (beli alustsista) di DI
(Dirgantara Indonesia), beli di Pindad, beli di PAL,” terang Jokowi.

Jokowi menambahkan, pembayarannya juga harus dilakukan
dengan menggunakan uang tunai agar kondisi perekonomian Indonesia cepat pulih.
Belanja dalam negeri menjadi kunci dalam pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

Jokowi juga menyinggung, Kemenhan menjadi salah satu
kementerian yang mendapatkan anggaran belanja yang cukup besar, yakni sebesar
Rp 117,9 triliun. Terkait hal tersebut, ia bilang akan memantau penggunaan
anggaran. Bahkan ia akan melihat secara harian untuk memastikan belanja
pemerintah dapat dikeluarkan dengan cepat.

“Saya kira belanja-belanja yang dulu belanja ke luar,
direm dulu. Beli, belanja, yang produk-produk kita. Agar apa? Ekonomi kena
trigger, bisa memacu growth kita, pertumbuhan (ekonomi) kita,” ucap
Presiden.

Di sisi lain, seperti dilansir kontan.co.id, Defence News,
lewat situsnya, DSCA mengumumkan, penjualan potensial delapan pesawat tempur
MV-22 Block C Osprey senilai total 2 miliar dolar AS atau hampir Rp 29 triliun
ke Indonesia.

Termasuk, mesin 24 AE 1107C Rolls-Royce, 20 radar infra
merah forward-looking AN/AAQ-27, sistem peringatan rudal AN/AAR-47, dan radar
penerima peringatan AN/APR-39, juga 20 senapan mesin M-240-D 7.64 mm dan
senapan mesin GAU-21.

DSCA menyebutkan, pesawat tempur MV-22 Block C Osprey hasil
kolaborasi Boeing Company dan Bell Helicopter-Textron itu juga akan
meningkatkan kemampuan bantuan kemanusiaan dan bencana Indonesia serta
mendukung operasi amfibi.

“Penjualan potensial ini akan mendukung tujuan kebijakan
luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra
regional penting yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik, dan kemajuan
ekonomi di kawasan Asia-Pasifik,” sebut DSCA.  

Pengumuman DSCA berarti Departemen Luar Negeri AS telah memutuskan
Program Penjualan Militer Luar Negeri (FMS) potensial memenuhi standar. Tetapi,
bukan jaminan penjualan akan terjadi sesuai yang DSCA umumkan.

Setelah mendapat persetujuan Kongres AS, pembeli dari luar
negeri termasuk Indonesia mulai bernegosiasi tentang harga dan kuantitas, yang
keduanya bisa berubah hingga negosiasi berakhir.



Source link

Comment