by

Tuding Din Syamsuddin Radikal, GAR ITB Hanya Ingin Naikkan Popularitas Kelompok

-Politik-24 views




“Sebab, kita semua mengetahui bagaimana kiprah Din dalam menjaga serta merawat kerukunan dan toleransi beragama baik itu di dalam maupun luar negeri. Bahkan, beliau sendiri adalah penggagas konsep Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah,” ujar Neni Nur Hayati kepada Kantor Berita RMOLJabar, Sabtu (13/2).

Menurutnya, Din Syamsuddin selama ini mampu menjadi sosok yang senantiasa memberikan contoh terbaik dalam merawat kesatuan berbangsa dan bernegara. Sehingga, tidak tepat jika mantan Ketum PP Muhammadiyah itu dicap sebagai aktor pembawa radikalisme.



“Din Syamsuddin juga tokoh yang menjadi panutan kita semua, tidak hanya di Muhammadiyah. Semua pihak sangat menghormatinya, apalagi anak muda,” kata Neni.

“Jika ada kritik yang disampaikan Pak Din kepada pemerintah itu adalah hal yang wajar,” lanjutnya.

Bagi Neni, mengingatkan pemerintah adalah suatu keharusan dalam sistem politik demokrasi.

“Presiden Joko Widodo sendiri membuka ruang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyampaikan saran dan kritik sebagai bagian dari proses mewujudkan good government,” ujarnya.

Alih-alih membangun demokrasi, imbuh Neni, sikap dan pernyataan yang dilontarkan oleh GAR ITB justru mengundang kegaduhan.

“Masa iya, tokoh yang pernah menjabat sebagai President religion for peace Asia dan Pacific dianggap sebagai tokoh yang radikal. Sebelah mana radikalnya?” tegasnya.

Neni juga menegaskan, tudingan GAR ITB sangat tidak objektif dan jauh dari relaitas yang sebenarnya.

“GAR ITB hanya mengada-ngada dan terlalu berlebihan dalam menilai seseorang. Apalagi yang dituding itu adalah ulama dan tokoh besar Muhammadiyah. Kita semua tahu bahwa muhammadiyah adalah organisasi yang telah banyak memberikan kontribusi konkrit untuk negeri ini,” ungkapnya.

Neni pun beranggapan bahwa GAR ITB hanya ingin menaikkan popularitas kelompok saja dengan membuat isu-isu yang tidak bermutu dan menuduh seorang tokoh Islam moderat sebagai radikal.

Sangat disayangkan, Kampus sebagai gerbang akademis yang berbasis intektualitas dan kajian ilmiah, kini lebih bersifat sentimentil, irasional sehingga menjadi islamophobia, sungguh sangat disayangkan.

“Kami mendorong agar GAR ITB segera mencabut laporannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada publilk,” tandasnya.





Source link

Comment